Soal Ajal, Siapa yang Tahu : Catatan Tentang Kepergian Sahabat Saya, Jasmani Al-Hadi
![]() |
| Jasmani Al-Hadi/Facebook |
Soal Ajal, Siapa yang Tahu: Catatan Tentang Kepergian Sahabat Saya, Jasmani Al-Hadi
Oleh Muis Sunarya
Kang Jasmani Alhadi ini bareng saya lulus Ponpes Daar El-Qolam tahun 1988. Dia sempat kuliah di UNISBA Bandung tapi lulus S1-nya di IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus sarjana teknik di PTS. Saat kuliah di IAIN Jakarta, dia aktif di organisasi intra-ekstra kampus.
Selain saat ini, Jasmani Alhadi adalah Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Kontruksi Indonesia (Apjakindo Pusat), juga masih menjadi ketua Fosdal Nasional (Forum Silaturahmi Alumni Daar El-Qolam dan La Tansa). Dia juga orang pertama yang menjadikan forum ini sebagai organisasi (resmi) berbadan hukum.
Tapi sudahlah. Tidak perlu ngomongin forum. Forum alumni, forum silaturhami, atau forum-forum apa pun terkait pondok ini. Karena sensitif.
Apalagi kalau dikaitkan dengan kondisi tahun politik seperti sekarang. Lebih sensitif lagi dan nggak relevan.
Apalagi kalau dikaitkan dengan kondisi tahun politik seperti sekarang. Lebih sensitif lagi dan nggak relevan.
Sejatinya, bahwa prinsip pondok pesantren itu "berdiri di atas dan untuk semua golongan". Pondok pesantren itu tidak partisan. Bersikap netral. Tidak masuk lebih dalam ke ranah politik. Tidak hanyut dalam sikap vested interest.
Pondok pesantren bersikap tidak memihak dan tidak bermain dalam kepentingan politik jangka pendek yang bisa merugikan keberadaan pondok pesantren ke depan dan lebih ke jangka panjang sebagai sebuah institusi atau lembaga pendidikan dan sosial yang lebih luas.
Sebagai sebuah institusi dan lembaga, pondok pesantren memiliki komitmen dan konsisten pada sebuah prinsip yang mulia tadi.
Prinsip "Berdiri di atas dan untuk semua golongan" sudah dibuktikan oleh pondok pesantren Gontor, dan pondok-pondok pesantren serupa, selama ini.
Tidak sedikit pun goyah dan cepat tergoda rayuan politik apa pun. Rayuan gombal politik yang bisa meninabobokan dan terlena dengan keuntungan finansial sesaat dan fatamorgana.
Pondok pesantren, pada satu sisi, membiarkan alumninya bebas menentukan sikap pilihan hidupnya, termasuk sikapnya berpolitik. Pondok pesantren pun tentu tidak bisa mencampurinya.
Pada sisi lain, alumninya pun tidak etis dan tidak berhak membawa-bawa almamaternya lebih jauh ke dalam sikap dan pilihan politik praktisnya.
Kembali ke almarahum Kang Jasmani Al-Hadi. Dia juga ternyata sudah merintis Pesantren Agrobisnis di Garut. Dan sebulan yang lalu dia bercerita ingin mengembangkan lagi pesantrennya di daerah Cinangka Anyer Banten. Dan sudah menemukan lokasi yang cocok.
Jasmani Alhadi itu orangnya baik, ramah, selalu banyak guyon, humble, easy going, rajin bersilaturahim, empati dan perhatiannya pada orang lain sangat tinggi, luar biasa.
Namanya ajal, batas umur, siapa yang tahu. Gaib, walaupun pasti datang. Hanya Allah Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Semalam sekitar pukul 20:00, tanggal 14 Nopember 2018, saya dapat kabar, sahabat saya, Jasmani Alhadi dipanggil oleh Allah kembali keharibaan-Nya untuk selamanya.
Begitu cepat dan mendadak. Walaupun tentu saja pada hakikatnya dalam rencana, qadha dan qadar Allah SWT. Takdir dan suratan dari Yang Maha Kuasa yang tidak bisa dimungkiri. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Sontak gerimis air mata, ucapan duka cita dan do'a mengalir dari semua sahabat dan orang-orang terdekat mengiringi kepergiannya.
Semoga Allah selalu menyayanginya, mengampuni segala dosanya, dan menjadikan akhir hayatnya husnul khatimah. Juga keluarganya yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan dan kesabaran. Amiin!
Selamat jalan, Kang! Selamat beristirahat dengan tenang dalam kedamaian, keridhoan dan keabadian kasih sayang-Nya.

Komentar
Posting Komentar