Postingan

Makna Leksikal Idul Fitri

Gambar
Makna Leksikal Idul Fitri Oleh Muis Sunarya Dulu, saat belajar di pesantren, ada satu mata pelajaran yang saya ingat dan menarik bagi saya, namanya " Fathul Munjid ", yaitu belajar membuka kamus Bahasa Arab, " Al-Munjid Fi al-Lugah wa al-A'lam " (sekarang kayaknya masih iya?). Kamus yang satu ini sempat menjadi kontroversi, lantaran pengarangnya adalah  dua orang pendeta Katolik  bernama  Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i  dan  Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i.  Kamus Munjid ini dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.  Banyak yang mengeritiknya, tentu saja. Terlepas ada ketidaksempurnaan pada sebuah karya, namun diakui bahwa kontribusi, manfaat dan positifnya sebagai referensi juga sudah terasa, dan menjadi khazanah intelektual-akademik bagi perkembangan bahasa dan sastra Arab selama ini. Bukankah kata Nabi, "Ambillah hikmah (ilmu pengetahuan) itu, terlepas dari mana pun datangnya"?   ...

Salat Tarawih dan Instagramable

Salat Tarawih dan Instagramable Oleh Muis Sunarya Salah satu ritual yang tidak pernah absen dilaksanakan oleh umat Islam setiap malam di bulan suci Ramadan adalah salat tarawih. Salat tarawih yang disebut juga sebagai salat sunah malam dilaksanakan setelah salat Isya. Salat tarawih adalah salat sunah yang sangat dianjurkan (muakadah). Ada yang melaksanakannya 20 rakaat plus salat witir tiga rakaat, ada juga yang melaksanakan 8 rakaat ditambah 3 rakaat salat witir

Perlukah Undang-Undang Perkawinan Direvisi?

Perlukah Undang-Undang Perkawinan Direvisi? Oleh Muis Sunarya Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan sudah empat dekade lebih berjalan pelaksanaannya. Dalam rentang waktu itu, kini muncul wacana revisi atas undang-undang ini. Alasannya, karena sudah  out of date  dengan perkembangan zaman. Untuk merespons wacana perlu tidaknya revisi atas UUP ini, ada baiknya dikutip tulisan Cak Nur berjudul "Undang-Undang Perkawinan" secara utuh di bawah ini. Berita yang menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir ini  ialah apa yang terjadi sekitar Rencana Undang-undang Perkawinan. Lebih-lebih lagi berita adanya demonstrasi pada sidang DPR (pi lihan rakyat) ketika mendengarkan jawaban pemerintah atas peman dangan umum anggota-anggota. Demonstrasi itu dilakukan oleh anak-anak muda, dengan tuntutan agar RUU itu dicabut. Membaca atau mendengar berita itu tentu mengingatkan orang  kepada peringatan Wapangkopkamtib Sudomo tentang SARA yang peka dan ...

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018 Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Salam sejahtera dan bahagia bagi kita semua. Oom swastiastu Namo Buddhaya Berkenaan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018, marilah kita bersyukur kepada Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Sebagaimana kita ketahui, tanggal 2 Mei telah ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, seorang tokoh pendidikan Indonesia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 ini kita mengambil tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Sesuai dengan tema tersebut, marilah kita jadikan peringatan kali ini sebagai momentum untuk merenungkan hubungan erat antara pendidikan dan kebudayaan sebagaimana tecermin dalam ajaran, pemikiran, da...

Kitab Suci itu Fiksi, Lelucon di Kelas Filsafat Semester Dua

Gambar
Kitab Suci itu Fiksi, Lelucon di Kelas Filsafat Semester Dua Oleh Muis Sunarya Rocky Gerung menyatakan, kitab suci itu fiksi. Ia sampaikan itu di acara talkshow yang disiarkan live oleh salah satu stasiun televisi swasta. Saat menyaksikan, saya tersenyum saja. Bagi saya, jujur, satu sisi, pernyataan "Kitab suci itu fiksi" yang dilontarkan RG biasa-biasa saja. Tidak aneh dan nggak masalah. Karena saya membayangkan bahwa diskusi itu adalah diskusi yang terjadi di kelas filsafat semester dua. Tampak ilmiah dan akademik, tapi seperti lelucon. Makanya saya tersenyum saja, seperti juga RG ketika melontarkan pernyataan itu. Tampak dari air muka dan gesturnya, ia sambil tersenyum dan nyantai saja. Terlihat tidak ada beban sama sekali. Sepertinya ia tahu dan sadar bahwa pernyataannya akan menjadi kontroversi. Berisiko memunculkan perdebatan dan akan menjadi viral. Menyerempet dan masuk pada soal yang sangat sensitif dan teologis. Dan benar saja, saat itu juga langsung dir...

Memahami Puisi, Menyelami Dunia Sufi

Gambar
Memahami Puisi, Menyelami Dunia Sufi Oleh Muis Sunarya Ketika Syekh Siti Jenar didatangi para prajurit kerajaan yang akan menangkapnya, terjadi dialog. Para prajurit bertanya, "Apakah Syekh Siti Jenar ada?" Syech Siti Jenar menjawab, "Syekh Siti Jenar tidak ada, yang ada adalah Tuhan!" Sontak para prajurit kaget. Lalu bertanya lagi, "Kalau begitu, apakah Tuhan ada?" Dijawab, "Tuhan tidak ada, yang ada adalah Syekh Siti Jenar!" Para Prajurit bertanya lagi, "Apakah Tuhan dan Syekh Siti Jenar ada?" Syekh Siti Jenar menjawab, "Tuhan dan Syekh Siti Jenar tidak ada, yang ada adalah Syekh Siti Jenar dan Tuhan." Kemudian, para prajurit lagi-lagi bertanya, "Apakah Tuhan dan Syekh Siti Jenar, Syekh Siti Jenar dan..." "Cukup, cukup!" potong Syekh Siti Jenar. "Pulanglah kalian!" Para prajurit pulang dengan membawa tanya dan bingung. Demikian bagian dialog yang saya ingat dan ikut terlibat bermai...

Penipuan Berkedok Agama: Dari Pilgub Sampai Umrah

Gambar
Penipuan Berkedok Agama: Dari Pilgub Sampai Umra Oleh Muis Sunarya Aksi penipuan berkedok agama kembali terjadi. Belum selesai heboh kasus biro perjalanan haji dan umrah First Travel, kini dengan modus yang sama muncul lagi kasus yang dilakukan Abu Tours. Langit suci seringkali sengaja dikoyak. Nilai agama dan kesakralan tak habis-habisnya dijadikan alat dan kedok menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan finansial dan material yang sesaat demi kepentingan pribadi atau kelompok. Agama juga kerap menjadi lahan yang amat subur untuk kepentingan politik. Masih terngiang dan masih membekas di ingatan kita, bagaimana sentimen dan motif agama menjadi alat untuk memenangkan calon di ajang pilgub DKI Jakarta yang lalu. Suasana mencekam dan menegangkan membuncah dan mengaduk-aduk emosi publik saat itu. Gegara soal-soal agama membumbui realitas politik, dari soal ayat, mensalatkan mayat, masjid, sampai aksi unjuk rasa berjilid. Dan itu semua tentu sarat berlatarkan agama ya...